JAKARTA, RABU - Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan rata-rata angka kelahiran total wanita Indonesia selama usia subur (total fertility rate/TFR) dapat menurun dalam dua tahun ke depan. Jika dalam kurun 2002-2007 TFR bertahan pada angka 2,6, dalam dua tahun ke depan nilai TFR diharapkan menurun menjadi 2,4.
"Jika kita dapat melaksanakan lima program percepatan KB, kita yakin dapat menurunkan TFR paling tidak mendekati 2,4 dalam dua tahun mendatang ini," ungkap Kepala BKKBN Sugiri Syarief saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR-RI di Jakarta, Rabu (10/10).
Data BKKBN yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan, tahun 1971 nilai TFR mencapai 5,61, tahun 1980 sebesar 4,68, tahun 1987 sebesar 3,39, tahun 1990 sebesar 3,02, tahun 1994 sebesar 2,86, tahun 1997 sebesar 2,78, dan 2002 sebesar 2,6.
Untuk tahun 2008, BKKBN menargetkan nilai TFR sebesar 2,20. Namun terget itu kata Sugiri akan sulit terealisasi bila melihat data SDKI 2007 yang menunjukkan angka kelahiran total tidak menurun dalam beberapa tahun terakhir.
"Dari 2002, TFR masih bertahan pada angka 2,6 dan ini masih jauh dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional yang besarnya 2,2 per wanita," ujar Sugiri.
Tingginya TFR dan kecenderungannya yang tidak kunjung menurun dikhawatirkan menyebabkan ledakan penduduk dan fenomena baby boom. Untuk itu, BKKBN saat ini tengah mempersiapkan lima prioritas program yang di antaranya adalah memacu percepatan program KB di daerah miskin, daerah kumuh, pesisir, perbatasan, penggarapan di daerah khusus yang belum terpenuhi kebutuhan KB-nya (unmet needs) serta program pengembangan jaringan operasional KB.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang